Persiapan anak masuk SD: kesiapan sekolah tidak sama dengan bisa calistung
TUREFF• •0
Banyak orang tua di Indonesia merasa cemas menjelang anak masuk SD. Ada anggapan anak harus sudah lancar membaca, menulis dan berhitung (calistung) agar diterima. Padahal kebijakan pendidikan sekarang menegaskan hal sebaliknya, dan kesiapan sekolah jauh lebih luas daripada calistung.
Tes calistung bukan syarat masuk SD
Pemerintah melalui gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan menegaskan bahwa tes calistung tidak boleh menjadi syarat penerimaan murid baru di SD. Anak justru diajari membaca, menulis dan berhitung di kelas awal SD. Aturan usia dan tahapan penerimaan murid baru ditetapkan setiap tahun; cek informasinya di dinas pendidikan daerah dan sekolah yang dituju, karena ketentuan bisa berubah.
Apa itu kesiapan sekolah
Anak yang siap sekolah bukan anak yang paling cepat membaca, melainkan anak yang:
Bisa berpisah dari orang tua beberapa jam tanpa terlalu cemas.
Mampu mengurus diri sendiri: ke toilet, makan, membuka botol minum, memakai sepatu.
Bisa mengikuti instruksi sederhana dan menunggu giliran.
Mampu mengungkapkan perasaan dan kebutuhannya dengan kata-kata, misalnya bilang lapar, sakit, atau minta tolong.
Mau bermain dan bekerja sama dengan teman.
Punya rasa ingin tahu dan senang mendengarkan cerita.
Yang bisa dilakukan di rumah
Membacakan buku setiap hari. Ini fondasi terbaik untuk kemampuan membaca kelak, jauh lebih efektif daripada drill huruf.
Bermain dengan angka dalam keseharian: menghitung anak tangga, membagi kue, membandingkan mana lebih banyak.
Melatih motorik halus: menggunting, meronce, mewarnai, bermain plastisin. Ini menyiapkan otot tangan untuk menulis.
Memberi tugas kecil di rumah, seperti merapikan mainan, agar anak terbiasa bertanggung jawab.
Membiasakan jam tidur yang teratur beberapa minggu sebelum sekolah dimulai, karena jam masuk SD umumnya pagi.
Menghadapi hari-hari pertama
Ajak anak melihat sekolah sebelum hari pertama, kalau memungkinkan.
Ceritakan apa yang akan terjadi: siapa gurunya, kapan istirahat, kapan dijemput.
Saat mengantar, pamit dengan jelas dan singkat, jangan menghilang diam-diam. Itu membangun kepercayaan.
Wajar jika anak menangis atau rewel di minggu-minggu awal. Bicarakan dengan guru jika berlangsung lama.
Hindari membandingkan
Setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda. Membandingkan dengan anak tetangga yang sudah lancar membaca hanya menambah tekanan. Kalau ada kekhawatiran serius tentang perkembangan bicara, pendengaran, atau perilaku, konsultasikan dengan dokter anak atau psikolog anak, bukan menunggu sampai anak masuk sekolah.