Belajar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO): perbedaannya dengan SIBI, abjad jari, dan etika berkomunikasi dengan teman Tuli

TUREFF• •0
Semakin banyak orang Indonesia yang ingin belajar bahasa isyarat, baik untuk berkomunikasi dengan teman, keluarga, atau rekan kerja Tuli, maupun karena tertarik dengan bahasanya. Langkah pertama adalah memahami bahasa isyarat apa yang dipakai sehari-hari oleh komunitas Tuli di Indonesia. 1. BISINDO dan SIBI BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) adalah bahasa isyarat alami yang tumbuh dan digunakan oleh komunitas Tuli di Indonesia sehari-hari. Ia memiliki kosakata dan tata bahasa sendiri, serta variasi daerah seperti dialek. SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) adalah sistem isyarat yang mengikuti struktur bahasa Indonesia kata per kata, termasuk imbuhan, dan pernah banyak diajarkan di sekolah. Banyak komunitas Tuli lebih memilih BISINDO karena terasa lebih alami. Jika ingin berkomunikasi dengan teman Tuli, belajar BISINDO biasanya menjadi pilihan yang tepat, tetapi tanyakan juga preferensi orang yang bersangkutan. 2. Abjad jari Setiap huruf memiliki bentuk tangan. Abjad jari BISINDO umumnya menggunakan dua tangan. Abjad jari dipakai untuk mengeja nama, tempat, atau kata yang belum diketahui isyaratnya. Mempelajari abjad jari adalah langkah awal yang bagus, misalnya untuk memperkenalkan nama sendiri. Namun percakapan sehari-hari menggunakan isyarat kata, bukan mengeja huruf satu per satu. 3. Ekspresi wajah itu penting Dalam bahasa isyarat, ekspresi wajah dan gerak tubuh membawa makna, misalnya untuk membedakan pertanyaan dan pernyataan, atau menunjukkan intensitas. Berisyarat dengan wajah datar membuat pesan sulit dipahami. 4. Tempat belajar Banyak organisasi dan komunitas Tuli, seperti Gerkatin dan Pusbisindo, mengadakan kelas BISINDO, baik tatap muka maupun daring. Belajar langsung dari guru Tuli sangat dianjurkan, karena mereka adalah penutur asli bahasa tersebut. Video dan aplikasi membantu menghafal kosakata, tetapi latihan percakapan dengan orang sungguhan tetap yang terpenting. Ikuti acara komunitas Tuli untuk berlatih dan mengenal budayanya. 5. Etika berkomunikasi dengan teman Tuli Pertahankan kontak mata. Dalam bahasa isyarat, memalingkan pandangan berarti berhenti memperhatikan. Untuk menarik perhatian, tepuk bahu dengan lembut atau lambaikan tangan di area pandangannya. Saat berbicara dengan orang yang membaca gerak bibir, bicaralah dengan jelas dengan kecepatan normal, tidak berlebihan, dan jangan menutupi mulut. Banyak orang Tuli memandang diri mereka sebagai komunitas dengan bahasa dan budaya sendiri. Istilah "Tuli" (dengan T besar) sering digunakan oleh komunitas sebagai identitas. Ikuti cara orang tersebut menyebut dirinya. Jangan menganggap semua orang Tuli bisa membaca gerak bibir atau menulis dengan lancar dalam bahasa Indonesia; setiap orang berbeda. 6. Juru bahasa isyarat Untuk acara penting seperti layanan kesehatan, hukum, atau pendidikan, gunakan juru bahasa isyarat yang terlatih. Kursus dasar tidak menjadikan seseorang juru bahasa. 7. Konsisten berlatih Seperti bahasa lain, bahasa isyarat perlu latihan rutin. Pelajari beberapa isyarat baru setiap hari dan gunakan dalam percakapan. Di ruang ini kamu bisa berbagi tempat belajar, bertanya isyarat, dan bercerita pengalaman. Teman Tuli sangat diundang untuk berbagi perspektif.

Comments (0)