Belajar taekwondo untuk pemula dan dewasa: memilih dojang, tingkatan sabuk, latihan dasar, dan cara menghindari cedera
TUREFF• •0
Taekwondo adalah seni bela diri asal Korea yang terkenal dengan tendangan tinggi dan cepat. Di Indonesia, taekwondo sangat populer di sekolah, kampus, dan klub-klub di berbagai kota. Taekwondo juga cabang olahraga Olimpiade. Selain melatih bela diri, taekwondo membangun kelenturan, kekuatan, konsentrasi, dan disiplin.
1. WT dan ITF
Ada dua aliran besar. World Taekwondo (WT) adalah aliran yang dipertandingkan di Olimpiade, dengan rangkaian gerakan (poomsae) dan pertandingan (kyorugi) yang memakai pelindung tubuh elektronik. ITF (International Taekwon-Do Federation) memiliki pola gerakan dan aturan pertandingan yang berbeda.
Di Indonesia, sebagian besar klub mengikuti aliran WT. Tanyakan di dojang mana yang mereka ajarkan.
2. Memilih dojang (tempat latihan)
Pastikan pelatih memiliki sabuk hitam dan sertifikat yang diakui, dan dojang berada di bawah organisasi resmi sehingga ujian kenaikan tingkat diakui.
Lihat suasana latihan: apakah pemanasan dilakukan dengan baik, apakah pelatih memperhatikan teknik dan keselamatan, apakah ada kelas khusus dewasa.
Banyak dojang menyediakan kelas percobaan. Manfaatkan untuk melihat apakah cocok.
3. Tingkatan sabuk
Pemula mulai dari sabuk putih, lalu naik bertahap melalui ujian kenaikan tingkat, biasanya melewati warna seperti kuning, hijau, biru, merah, hingga hitam. Urutan dan jumlah tingkatan bisa sedikit berbeda antar organisasi.
Sabuk hitam tingkat pertama (Dan 1) biasanya bisa dicapai setelah beberapa tahun latihan rutin. Anak-anak di bawah usia tertentu menerima sabuk Poom, setara sabuk hitam untuk junior.
Ujian kenaikan tingkat umumnya menilai poomsae, teknik dasar, tendangan, dan kadang kyorugi serta pemecahan papan.
4. Latihan dasar
Kuda-kuda (seogi): posisi berdiri yang menjadi dasar semua gerakan.
Pukulan (jireugi) dan tangkisan (makki).
Tendangan dasar: ap chagi (tendangan depan), dollyo chagi (tendangan memutar/samping), yeop chagi (tendangan menyamping), dwi chagi (tendangan ke belakang).
Poomsae: rangkaian gerakan yang dihafalkan, mirip "jurus" yang melatih teknik, keseimbangan, dan konsentrasi.
Peregangan: kelenturan sangat penting untuk tendangan tinggi, tetapi harus ditingkatkan perlahan.
5. Perlengkapan
Dobok (seragam taekwondo) dan sabuk.
Untuk kyorugi: pelindung badan (hogu), pelindung kepala, pelindung lengan dan kaki, pelindung kemaluan, dan pelindung gigi.
Pemula biasanya cukup membeli dobok dulu. Perlengkapan lain bisa dibeli setelah mulai latihan tanding, sesuai arahan pelatih.
6. Mulai di usia dewasa
Tidak ada kata terlambat. Banyak orang mulai taekwondo di usia 20-an, 30-an, bahkan lebih. Fokus pada teknik, kelenturan, dan kebugaran; tidak perlu ikut pertandingan jika tidak ingin.
Jangan membandingkan diri dengan atlet muda yang sudah berlatih sejak kecil.
7. Mencegah cedera
Pemanasan dan peregangan sebelum latihan sangat penting, terutama untuk pinggul, paha belakang, dan pergelangan kaki.
Jangan memaksa tendangan tinggi sebelum otot cukup lentur; cedera hamstring dan pinggul sering terjadi karena ini.
Saat sparring, kendalikan kekuatan, gunakan pelindung lengkap, dan dengarkan pelatih.
Jika memiliki masalah jantung, tekanan darah, atau cedera lama, konsultasikan dengan dokter sebelum mulai.
8. Etika
Taekwondo menekankan sopan santun: membungkuk memberi hormat saat masuk dan keluar dojang, kepada pelatih, dan kepada lawan. Lima prinsip yang sering diajarkan adalah sopan santun, integritas, ketekunan, pengendalian diri, dan semangat pantang menyerah.
Di ruang ini kamu bisa berbagi pengalaman latihan, ujian kenaikan sabuk, dan tips tendangan.