Pulau Morotai di Maluku Utara: Pulau Dodola, jejak Perang Dunia II, menyelam bangkai pesawat dan cara ke sana

TUREFF• •0
Morotai adalah pulau di ujung utara Maluku Utara, menghadap Samudra Pasifik. Pulau ini dikenal karena pantai-pantai berpasir putih, laut jernih dengan terumbu karang, dan sejarah Perang Dunia II: pada 1944 pasukan Sekutu di bawah Jenderal Douglas MacArthur menjadikan Morotai pangkalan penting menuju Filipina. Sisa-sisa perang masih bisa dilihat di darat dan di bawah laut. Cara ke sana Pesawat ke Bandara Leo Wattimena di Morotai, biasanya melalui Ternate atau Manado. Jadwal penerbangan terbatas dan bisa berubah. Dari Ternate, bisa juga menyeberang ke Halmahera, menuju Tobelo lewat jalan darat, lalu naik kapal cepat ke Daruba, kota utama Morotai. Di pulau, sewa motor atau mobil; untuk ke pulau-pulau kecil, sewa perahu di Daruba. Pulau Dodola Ikon wisata Morotai: dua pulau, Dodola Besar dan Dodola Kecil, yang terhubung oleh hamparan pasir putih saat air surut. Air lautnya bening dan dangkal, cocok untuk berenang dan snorkeling. Perjalanan dengan perahu dari Daruba sekitar setengah jam. Jejak Perang Dunia II Museum Perang Dunia II di Daruba menyimpan senjata, helm, botol dan peninggalan lain dari masa perang. Pulau Zum Zum, dekat Daruba, punya patung MacArthur dan sisa markas. Bekas landasan pacu Sekutu yang masih digunakan dan beberapa bangkai kendaraan perang di daratan. Menyelam Perairan Morotai menyimpan bangkai pesawat dan kapal dari Perang Dunia II, terumbu karang dan ikan karang yang melimpah. Ada titik-titik penyelaman dengan bangkai pesawat di kedalaman yang bisa dijangkau penyelam bersertifikat. Gunakan operator selam lokal yang berpengalaman. Pantai dan pulau lain Pulau Kokoya, Pulau Kolorai dan Pulau Galo-Galo dengan pantai pasir putih dan kampung nelayan. Pantai-pantai di sepanjang pesisir yang masih sepi. Tips Bawa uang tunai yang cukup: ATM dan pembayaran nontunai terbatas di luar Daruba. Musim angin dan ombak bisa memengaruhi perahu; tanyakan kondisi laut kepada warga dan pemilik perahu. Jangan mengambil benda peninggalan perang dari laut atau darat; banyak di antaranya dilindungi, dan sebagian bisa berbahaya.

Comments (0)