Tidore: menyeberang dari Ternate, Kesultanan dan Kedaton, Benteng Tahula, Kie Matubu, dan jejak Magelhaens
TUREFF• •0
Tidore adalah pulau di Maluku Utara yang berhadapan langsung dengan Ternate. Seperti tetangganya, Tidore pernah menjadi pusat perdagangan cengkeh dan pala, dan Kesultanan Tidore masih bertahan hingga kini. Pulau ini lebih tenang daripada Ternate, dengan Gunung Kie Matubu yang menjulang di tengahnya dan desa-desa yang ramah.
Cara ke sana
Dari Pelabuhan Bastiong di Ternate, naik speedboat ke Pelabuhan Rum di Tidore, hanya sekitar sepuluh menit.
Dari Rum, naik ojek atau mobil sewaan ke kota Soasio, pusat pemerintahan dan kesultanan.
Kesultanan Tidore
Kedaton Kie, istana kesultanan di Soasio, dibangun kembali dan menjadi pusat upacara adat.
Museum Sonyine Malige menyimpan mahkota sultan dan pusaka kesultanan; kunjungan biasanya perlu izin dan sebaiknya ditemani pemandu setempat.
Upacara adat dan perayaan hari jadi Tidore biasanya digelar setiap April, dengan ritual dan pertunjukan budaya.
Benteng
Benteng Tahula, dibangun Spanyol pada abad ke-17 di atas bukit, dengan pemandangan laut dan Halmahera.
Benteng Torre, peninggalan lain dari masa persaingan bangsa Eropa.
Jejak sejarah
Pada 1521, dua kapal dari ekspedisi Magelhaens tiba di Tidore setelah sang kapten tewas di Filipina, dan membawa pulang cengkeh ke Spanyol. Kisah ini membuat Tidore dikenal sebagai bagian penting dari pelayaran keliling dunia pertama.
Gunung Kie Matubu
Gunung api setinggi sekitar 1.700 m ini bisa didaki dalam sehari dengan pemandu dari desa terdekat. Puncaknya menawarkan pemandangan Ternate, Halmahera, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Jalur bisa licin, mulailah pagi hari.
Makanan
Ikan bakar dan papeda, kue-kue tradisional, serta teh dan kopi dengan rempah.
Tips
Berpakaianlah sopan, terutama saat mengunjungi kedaton dan masjid.
Bawa uang tunai, karena tidak semua tempat menerima pembayaran digital.
Jadwal speedboat bergantung cuaca; berangkatlah kembali ke Ternate sebelum sore.